apo nak dikato

Semulia akhlak insan: Bahagian 2

Posted on: November 30, 2008

…sambungan daripada siri satu.


10. Berbaik sangka kepada orang beriman

Firman Allah:

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri,…” [TQS An-Nur ayat 12]


11. Bersikap baik dengan tetangga

Firman Allah:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.” [TQS an-Nisa’ ayat 36]


Dari Ibnu Umar dan Aisyah radhialla anhuma, kedua-duanya berkata; Rasulullah saw bersabda:

“Jibril sentiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, hingga aku menduga bahwa Jibril akan menjadikannya sebagai ahli waris.” [Mutafaq ‘Alaih]

12. Amanah

Firman Allah:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” [TQS an-Nisa ayat 58]


Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu:

“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak mengangkatku menjadi wakilmu?’ Kemudian beliau  menepuk-nepuk pundakku dengan kedua tangannya, seraya berkata, ‘Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, padahal kekuasaan itu adalah amanah. Kelak di hari kiamat kekuasaan itu akan menjadi kehinaan dan kesedihan, kecuali orang yang mengambilnya dengan kebenaran dan menunaikan segala kewajibannya.’ “ [Hadis Riwayat Muslim]


13. Bersikap hati-hati (wara’) dan meninggalkan syubahat

Dari Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma, ia berkata; aku menghafal sebuah hadis dari Rasulullah saw iaitu:

“Tinggalkan perkara yang meragukanmu, dan ambil perkara yang tidak meragukanmu”. [Hadis Riwayat at-Tirmidzi. Ia berkata, “Hasan Shahih”; Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan an-Nasai]


Dari Athiyah bin Urwah as-Sa’diy ra, ia berkata; Rasulullah saw bersabda:

“Seorang hamba itu tidak sampai kepada derajat orang-orang yang bertakwa sehingga ia meninggalkan perkara yang tidak ada masalah (mubah), karena khawatir akan terjerumus dalam perkara yang bermasalah (terlarang)”. [Hadis Riwayat al-Hakim, beliau berkata, “Hadis ini shahih isnadnya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi]

14. Memuliakan Ulama, Orang tua, dan orang yang memiliki keutamaan

Firman Allah:

“Katakanlah; ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang menerima pelajaran”. [TQS az-Zumar ayat 9]

Dari Ubadah bin ash-Shamit ra bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Bukan termasuk umatku orang yang tidak memuliakan orang tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak guru”. [al-Mundziri berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad hasan”. Al-Haitsami berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan sanad hasan.]

15. Mengutamakan orang lain (al-itsar) dan menolong orang lain (al-Muwasah)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata; Rasulullah saw bersabda:

“Makanan untuk dua orang, cukup untuk tiga orang. Makanan tiga orang, cukup untuk empat orang”. [Mutafaq ‘Alaih]

Dari Abu Musa ra, ia berkata; Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya kaum al-Asy’ariyin jika mereka menduda dalam peperangan, atau memiliki sedikit makanan untuk keluarganya di kampung halamannya, mereka akan mengumpulkan hartanya pada satu kain, kemudian membagi-bagikannya pada suatu wadah dengan bagian yang sama. Mereka itu termasuk golonganku, dan aku termasuk golongan mereka”. [Mutafaq ‘Alaih]

16. Berderma dan infak di jalan kebaikan

Firman Allah:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [TQS. al-Baqarah ayat 261]

Dari Ibnu Mas’ud ra, dari Rasulullah saw, beliau bersabda:

“Tidak ada hasud* kecuali pada dua perkara, yaitu oada seorang yang dikarunia harta oleh Allah swt kemudian ia menghabiskan hartanya dalam kebenaran, dan pada seorang yang diberi hikmah oleh Allah kemudian ia menghukumi dengan hikmah (ilmu) tersebut dan mengajarkannya”. [Mutafaq ‘Alaih]

17. Berpaling dari orang-orang yang bodoh

Firman Allah:

“… Dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” [TQS. al-A’raf ayat 199]


“… Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik”. [TQS. al-Furqan ayat 63]

18. Taat

Taat ada dua macam. Pertama, ketaatan yang mutlak tanpa ada batasan, yaitu ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kedua, ketaatan yang dibatasi dengan yang makruf. Artinya, jika seseorang diperintahkan untuk maksiat, maka tidak wajib taat. Ketaatan yang kedua ini seperti ketaatan kepada orang tua, kepada suami, dan kepada pemimpin. Kedua jenis taat ini hukumnya wajib. Dalilnya sudah masyhur.


SEMUA YANG TELAH DICERITAKAN SEBELUMNYA ADALAH SEBAGIAN CONTOH DARI AKHLAK YANG BAIK


Semoga Allah memberkati kita semua. Mudah-mudahan perkongsian ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca sekalian. Marilah bersama-sama berusaha untuk mengamalkan semampu mungkin. Seorang Mukmin sejati bukan sekadar melakukan perkara yang wajib dan meninggalkan keharaman semata-mata. Bahkan ia akan berusaha sedaya-upaya untuk mencapai matlamat akhir yang diimpikan oleh setiap individu Muslim iaitu mardhatillah (keredhaan Allah)…

Ayuh, marilah kita berusaha mendekatkan diri kepada-Nya (taqarrub ilallah)!

Fastabiqul Khairat~!

Label: , ,

2 Respons to "Semulia akhlak insan: Bahagian 2"

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah banyak meninggalkan sunnah (tuntunan) yang mulia. Salah satunya adalah kebersamaan yang indah dengan taburan cahaya tauhid dan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Berikut ini saya sarikan dari majelis ta’lim Kamis Sore (18/6) yang membahas Kitab Riyadhush Shalihin karya Imam An Nawawi rahimahullahu ta’ala oleh al ustadz Irfan di Jombang, Indonesia.

Halaman 141
Hadits ke 566

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Pada suatu ketika kita semua dalam berpergian bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seorang lelaki dengan menaiki kenderaannya, lalu mulailah ia menengokkan wajahnya ke arah kanan dan kiri. Kemudian bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang mempunyai kelebihan kendaraan – yakni lebih dari apa yang diperlukannya sendiri, hendaklah bersedekah dengan kelebihannya itu kepada orang yang tidak mempunyai kendaraan dan barangsiapa yang mempunyai kelebihan bekal makanan, maka hendaklah bersedekah kepada orang yang tidak mempunyai bekal makanan apa-apa.” Selanjutnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan berbagai macam harta benda dengan segala apa saja yang dapat disebutkan, sehingga kita semua mengerti bahawa tidak seorang pun dari kita semua itu yang mempunyai hak dalam apa-apa yang kelebihan – sebab segala macam yang merupakan kelebihan diperintahkan untuk disedekahkan.” (Riwayat Muslim)

Dari hadits di atas dapat kita ambil beberapa faidah:

1. Seorang pimpinan memerintahkan kepada orang-orang yang di bawahnya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Hal ini hanya dilakukan dalam keadaan darurat (safar). Banyak shahabat dalam riwayat termasuk golongan kaya (yaitu memiliki kelebihan harta).
2. Anjuran bershadaqah kepada orang-orang yang membutuhkan.
3. Perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para shahabat beliau.
4. Dianjurkan membantu ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan membutuhkan bantuan).
5. Cepatnya para shahabat melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salla.

Halaman 141-142
Hadits ke 567

Dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu bahawasanya ada seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa selembar burdah yang ditenun, kemudian wanita itu berkata: “Saya sendiri menenun pakaian ini dengan tanganku untuk saya berikan kepadamu agar engkau gunakan sebagai pakaian.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan memang beliau memerlukannya. Beliau keluar pada kami dan burdah tadi dikenakan sebagai sarungnya. Kemudian ada orang berkata: “Alangkah bagusnya burdah ini, berikanlah burdah itu untuk saya pakai.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Baiklah.” Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dalam suatu majlis lalu burdah tadi dilipatnya kemudian diberikan kepada orang yang memintanya tadi. Para sahabat lainnya berkata kepada yang meminta itu: “Alangkah baiknya perbuatanmu itu! Burdah itu dipakai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan beliau memerlukan untuk dipakainya dan engkau juga tahu bahawa beliau itu tidak akan menolak permintaan siapa pun yang memintanya.” Orang tadi menjawab: “Sesungguhnya saya, demi Allah, tidaklah saya memintanya itu kerana saya memerlukannya, bahwasanya saya memintanya tadi ialah untuk saya jadikan kafanku – yakni kalau meninggal dunia.” Sahal – yang meriwayatkan Hadis ini -berkata: “Maka burdah tersebut sungguh-sungguh dijadikan kafannya.” (Riwayat Bukhari)

Faidah yang dapat kita ambil:

1. Disunnahkan untuk segera mengambil hadiah. Dengan bersegera mengambil hadiah akan menyenangkan orang yang memberikan hadiah tersebut, karena menunjukkan bahwa hadiah tersebut bermanfaat bagi kita.
2. Bagusnya akhlaq Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3. Bolehnya bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menerima hadiah.Di sini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersedia mengambil burdah itu karena sebagai hadiah, sedangkan apabila shadaqah beliau tidak akan menerimanya.
4. Bolehnya meminta dengan tujuan yang benar. Shahabat yang meminta burdah tersebut ada yang mengatakan Abdurrahman bin Auf, ada juga yang mengatakan bahwa dia adalah Sa’ad bin Abi Waqash.
5. Bolehnya menyiapkan sesuatu sebelum waktu yang dibutuhkan. Misalnya menyiapkan kafan untuk kematiannya. Dari hadits ini Syaikh Al Albani berpendapat bolehnya menyiapkan kafan untuk kematiannya, sedangkan menyiapkan kuburan adalah bid’ah (hal yang menyimpang dari syariat).
6. Bolehnya seseorang memuji apa yang dia lihat dari orang lain dengan tujuan memintanya dengan tidak terus terang.
7. Diisyaratkan mengingkari orang yang menyelisihi adab walaupun tidak sampai pada tingkatan haram. Di sini para shahabat lainnya menilai meminta burdah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah etis. Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat membutuhkan burdah itu. Kedua, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sifat tidak akan menolak bila diminta walaupun beliau sangat membuthkannya. Sehingga permintaan untuk memberikan burdah itu pasti dikabulkan oleh beliau.

Halaman 142
Hadits ke 568

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, katanya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata:
“Sesungguhnya kaum Asy’ariyin itu apabila habis bekal-bekalnya dalam sesuatu peperangan atau tinggal sedikit makanan untuk para keluarganya di Madinah, maka mereka sama mengumpulkan apa-apa yang masih mereka punyai dalam selembar kain pakaian, lalu mereka bagi-bagikanlah itu antara sesama mereka dalam ukuran satu wadah dengan sama rata. Mereka itu adalah termasuk golonganku dan saya termasuk golongan mereka pula.” (Muttafaq ‘alaih)

Faidah:

1. Keutamaan orang Asy ‘ariyin. (Asy ‘Ariyin dalam hadits ini bukanlah golongan Asy ‘Ariyin di jaman kita yang banyak berlumuran khurafat, bid’ah dan ma’siat. Akan tetapi suatu marga di jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau puji termasuk golongan beliau)
2. Bolehnya seseorang membicarakan keutamaan orang lain.
3. Keutamaan menolong sesama.

Dari hadits ini Syaikh Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini merupakan asal dari bolehnya mendirikan jum’iatul ta’awuniyah (yayasan). Bolehnya membuat kotak untuk mengumpulkan harta (uang) untuk diberikan kepada golongannya sendiri. Boleh juga untuk memotong beberapa persen dari gaji atau ditentukan jumlahnya untuk diberikan kepada saudaranya yang membutuhkan.

Assalamualaikum,

Terima kasih wirawan atas ilmu yang diberikan…

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Calendar

November 2008
F S S M T W T
« Oct   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Archive

Sudahkah anda membaca al-Quran pada hari ini?

Bilakah kali terakhir kita membaca al-Quran?

Truth About Democracy – Click to Read the Article

Democracy is not compatible with Islam

Truth About Democracy

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 12 other followers

Sikap Kita Terhadap Sesama Daie

Sikap Hizbut Tahrir sendiri terhadap gerakan-gerakan Islam lainnya setidaknya tercermin dari pernyataan Amin Nayaf , salah seorang tokoh Hizbut Tahrir –ketika beliau memberikan jawaban atas tuduhan terhadap beliau yang telah menyebarkan pemikiran Mu’tazilah: “Janganlah kalian mencoba untuk mencari permusuhan atau mengarah pada permusuhan terhadap gerakan-gerakan Islam lainnya. Kita harus waspada terhadap pihak-pihak yang mencoba untuk memecah-belah gerakan-gerakan Islam. Kepada merekalah seharusnya serangan itu dilancarkan.

Persoalan tentang Baiah al-Inah

Blog Stats

  • 107,689 visits

Top Rated

Reminder to All Muslims around the World

“Say: If it be that your fathers, your sons, your brothers, your mates, or your kindred; the wealth that ye have gained; the commerce in which ye fear a decline: or the dwellings in which ye delight – are dearer to you than Allah, or His Messenger, or the striving in His cause;- then wait until Allah brings about His decision (ie. Torment): and Allah guides not the rebellious.” [TMQ Surah At-Tawbah: 24]
%d bloggers like this: